Sudah Cukupkah Bekal Kita Untuk dibawa Pulang?

Menuju dua bulan, sejak hari Eril ditetapkan hilang terbawa arus sungai Aare di Swiss (26/05). Lalu dua pekan kemudian, saat Ridwan Kamil sekeluarga sudah melewati satu minggu yang berat di tanah air. Memasrahkan takdir setelah tujuh hari pencarian yang nihil. Eril ditemukan di Bendungan Engehalde oleh seorang guru SD yang melintas pagi-pagi.

Kabar itu serupa air untuk jiwa yang sekian lama dilanda dahaga. Plong. Meski tak lagi bisa kembali merasakan hangatnya kebersamaan, cukuplah kondisi berpulangnya menjadi penghibur yang hingga sekarang menjadi pembelajaran paling berharga. Pasalnya, ketika jenazah Eril dipulangkan untuk dimandikan Sang Ayah, betapa terkejutnya saat ia  dapati tubuh sang putra yang masih utuh, beraroma wangi tetumbuhan dan posisi wajah menghadap ke kanan sembari menyungging senyum. Ada apa gerangan sehingga raga yang telah dua pekan mati bisa semulia itu?

Saya mengikuti cerita hilangnya Eril melalui media sosial. Betapa saat itu rasa simpati hadir memenuhi segala lini jejaring sosial. Mendoakan keselamatannya. Turut serta merasakan sedihnya, banyak pula yang memosisikan diri sebagai orangtua, saudara, sahabat dan seseorang yang memang patut untuk didoakan. Padahal, sebelumnya, meski anak seorang Gubernur Jawa Barat, seperti laiknya anak pejabat lain di Indonesia, siapa sih Eril hingga sosoknya mendapat tempat setinggi itu?

Sampai bulan Juli lalu, notifikasi Youtube muncul dari Channel Najwa Shihab memberitahukan wawancara eksklusifnya dengan Ridwan Kamil dan istrinya tentang cinta tak hingga dari Eril. Video berdurasi lima puluh lima menit yang dalam hitungan jam mendapat jutaan penonton. Selama menonton tayangan itu, muncul rasa haru sembari terus berujar “Masya Allah” dalam hati. Bahkan, tak terasa air mata mengaliri pipi.

Jika biasanya Najwa selalu menyodorkan pertanyaan kepada narasumbernya, di video itu, kurang dari 10 kali pertanyaan diberikan. Ibu Cinta, panggilan akrab Ibu Atalia dan Pak Ridwan bercerita mengalir tentang Eril, sejak peristiwa hingga sosok Eril dalam kehidupan sehari-harinya. Tentang Eril, anak Gubernur Jawa Barat yang rendah hati, suka menolong, suka bersedekah, welas asih dan penyayang. Tentang Eril, anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Tentang Eril yang dikenal ramah dan tidak sombong di lingkungan sosialnya. Tentang Eril yang senang membantu hingga menggerakkan teman-temannya membentuk komunitas berbagi di kotanya.

“Eril itu memegang tiga prinsip di dalam hidupnya: suka menolong, minta maaf duluan meskipun misalnya bukan dia yang salah, dan selalu mengucapkan terima kasih.” Ungkap Ridwan Kamil menerawang dengan rasa haru.

Saat menonton video itu, berulangkali Bu Cinta mengatakan bahwa kepergian Eril memberi pelajaran yang teramat berharga. Tentang penyadaran bahwa setinggi apapun pencapaian duniawi, semuanya tidak akan dibawa mati. Yang dibawa mati adalah amal. Sehingga, saat ini kesibukan sehari-hari lebih difokuskan untuk menyiapkan bekal untuk berpulang kelak.

Setelahnya, saya merenung. Amalan apa yang telah saya lakukan hingga jika tiba waktunya pulang nanti, saya bisa memperoleh tempat semulia itu? Paling tidak, berakhir dalam kematian yang baik. Adakah amalan baik yang terus saya lakukan untuk menjadi bekal pulang?

Saya terus mengingat. Sebagai calon mayat yang kelak menjadi mayat, apakah saya bisa dikenang sebagai sosok yang baik? Sosok yang bermanfaat untuk sekitar dan sesama? Saya menggali ingatan kembali. Mengintrospeksi hidup yang telah habis seperempat abad.

Kepergian Eril yang fenomenal menjadi pengingat bagi kaum muda, bahwa mati tidak harus tua. Bahwa mati tidak akan menunggu diri siap. Bahwa mati adalah kepulangan selamanya setelah kehidupan di dunia yang tidak akan kembali. Bahwa mati tidak memilih tempat, situasi, kondisi, dan status sosial. Bahwa mati adalah niscaya.

Lagi, saya mengingat dan merenung. Sudah seberapa bekal saya untuk pulang selamanya?

Apakah setiap waktu yang saya lewati menjadi modal untuk bekal akhirat saya?

Sudah siapkah saya dijemput kapan saja di tempat yang tak terduga?

***

Review Buku: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

Awalnya tidak begitu tertarik membaca Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982. Oleh sebab cover bukunya yang menurut saya kurang menarik. Menilai judulnya, saya menebak buku ini adalah semacam biografi seseorang yang mungkin memberikan pelajaran berharga dari hidupnya untuk pembaca korea yang kemudian dialihbahasakan ke berbagai bahasa. Saya mengetik judul buku itu di laman Google dan menemukan fakta bahwa buku ini telah diadaptasi menjadi sebuah film pada 2019 yang dibintangi oleh aktor sekelas Gong Yoo dan Jung Yu Mi. Wow! Beberapa ulasan singkat lainnya dari pembaca menuliskan jika buku ini sangat layak dibaca karena mengulik ragam masalah yang mewakili perempuan.

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 (doc. pribadi)

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 diceritakan dengan sangat personal sejak ia melewati masa kanak-kanaknya di dalam sebuah keluarga bahkan lingkungan yang menganut budaya misoginis. Setiap fase dalam hidupnya sebagai perempuan yang berdampingan dengan perempuan lain (kakak perempuan, ibu, nenek, keluarga suami, teman, guru, dan rekan kerja) selalu bersinggungan dengan peristiwa yang mempertanyakan, mengapa karena mereka laki-laki, sehingga sebagai perempuan, saya harus mengalah dan berkorban?

Beberapa kejadian seperti ia dan kakaknya harus mengalah terhadap adik lelakinya dalam berbagi makanan, barang dan mendapat perhatian serta kasih sayang lebih dari orang di dalam rumahnya. Perlakuan itu dimulai dari Neneknya yang selalu berharap Ibu Ji-Yeong melahirkan anak laki-laki. Sebuah pengharapan mayoritas orang korea yang menganggap hadirnya anak lelaki dibanding perempuan adalah sebuah kebahagiaan dan keberuntungan. Bahkan, ibunya harus menggugurkan kandungan setelah tahu janinnya perempuan. Sejarah keluarga mereka juga mencatat bahwa Ibu adalah pejuang nafkah yang mengorbankan ambisi menjadi guru demi kesuksesan ketiga saudara laki-lakinya. Begitupun dengan Nenek.

Kejadian di sekolah, saat Ji-Yeong menjadi korban kejahilan teman sebangku lelakinya. Gurunya masih “membela” dengan menyebutkan bahwa sikap anak lelaki itu demikian karena adanya rasa suka kepada Ji-Yeong. Padahal, ia melewati hari-hari di sekolah dengan berbagai gangguan dan kejahilan yang sama sekali tak menyenangkan. Saat di bangku SMA, ia dipersalahkan Ayahnya saat seorang lelaki mengikutinya sejak dari bus sampai di tempatnya turun. Padahal, ia sama sekali tak mengenal dan membuka peluang untuk diganggu. Di tempat kerja, ia sengaja diberi kesempatan yang lebih sulit dalam melayani pelanggan “ribet” dan tidak mendapat posisi yang bagus dalam pekerjaan meski seharusnya ia bisa dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Semua karena atasannya tidak ingin kehilangan pekerja lelaki.

Berbagai kejadian yang dialami Ji-Yeong menggambarkan betapa menyebalkannya orang di sekitarnya yang memperlakukannya sebagai orang nomor dua atas nama gender. Penulis menyertakan referensi akurat di dalam setiap kejadian yang lekat dengan dinamika kehidupan bermasyarakat orang korea sehingga sebagai pembaca, saya bisa menelusuri kejadian lebih lanjut jika penasaran dengan detail peristiwanya. Buku ini juga menggambarkan bagaimana kesehatan mental Ji-Yeong akhirnya terganggu dengan beragam lika-liku kehidupan yang dilaluinya. Terutama setelah ia melahirkan bayi perempuan. Beberapa waktu sebelumnya ia memutuskan berhenti kerja demi mengurus bayinya.

Tergambarkan konflik batin yang dialami Ji-Yeong yang memulai karirnya dengan usaha keras. Ada pengorbanan dan dukungan ibunya dan tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan bahkan setelah selesai kuliah. Hal yang sulit dan jarang dilakukan teman seangkatannya. Terbayangkan, saat harus melepas karirnya yang masih seumur jagung di usia muda. Juga sentimen orang-orang awam di sekitarnya yang mengusik jiwanya yang sedang telanjur rapuh dan bimbang. Justru, menambah buruk kondisi mentalnya. Ia berubah menjadi orang lain.

Buku ini mengajak saya untuk lebih waspada dengan kondisi diri sebagai perempuan pekerja dan sebentar lagi memiliki anak. Bukan membuat khawatir, tetapi lebih waspada untuk peduli dengan diri sendiri, mengabaikan hal yang tidak layak dipedulikan. Tidak perlu overthinking dan insecure. Meski kedua hal itu terkadang menghampiri tanpa terduga. Apalagi, saat sedang dalam proses memahami dan menerima keadaan. Pada akhirnya, bukan penerimaan yang terjadi, tetapi pemberontakan. Kim Ji-Yeong membawa saya memahami kehidupan perempuan di belahan dunia lain yang serupa tapi berbeda.***

Serunya Bermain, Belajar, dan Tumbuh dalam Keberagaman di Festival Anak Makassar 2019

Bahagiakan anak anda di hari anak nasional, begitu tulisan di spanduk yang terpasang di pertigaan Adhyaksa-Abdesir yang saya baca di tengah temaram lampu jalan dan sorot lampu kendaraan. Selepas membaca tulisan itu dengan cepat saya bergumam dalam hati, tepat karena saya baru saja pulang mengusahakan persiapan untuk turut menyumbang sedikit bahagia dan tawa untuk anak-anak. Membahagiakan anak-anak memang bukan hanya di hari anak nasional. Setiap hari adalah upaya untuk membahagiakan. Momentum hari anak hadir untuk berbagi senyum, tawa, dan saling mengingatkan para orangtua bahwa ada hak-hak dari tiap anak yang mesti dipenuhi. Meski Festival Anak sesungguhnya lebih dari itu.

IMG-20190721-WA0040
Selamat datang di Festival Anak Makassar 2019

Festival Anak Makassar (FAM) Sobat LemINA sengaja digelar dua hari lebih awal dari tanggal peringatan hari anak nasional agar lebih banyak yang berpartisipasi di akhir pekan (21/7). Benar saja, punggung-punggung mobil telah menutup pemandangan area parkir Benteng Rotterdam saat saya tiba di Ahad ketika orang-orang yang hobi bangun telat belum membuka tirai jendela. Motor-motor terparkir rapi di bagian depan lebih dekat dari pintu masuk. Penuh!

Sepagi itu Benteng Rotterdam sudah ramai, panitia kalah cepat dengan orang-orang yang bersemangat datang menyemarakkan acara dua tahunan yang dihelat Sobat LemINA. Seharusnya dibuka jam delapan pagi namun sudah ramai sejak jam tujuh. Wow! Para orangtua beserta gandengan mereka (baca: anak-anaknya) sudah mengular panjang menggenggam map di depan meja registrasi. Menunggu giliran mencatat nama sambil mengambil nomor antrian pengurusan kartu identitas anak (KIA) atau akta lahir.

B612_20190729_174733_339
Antrian pengurusan KIA dan akta lahir sejak pagi

Dari panggung utama, lagu anak-anak terus dibunyikan menjadi latar kedua MC, Kak Mute dan Kak Edwin yang berkeliling stan mewawancarai para relawan. Di malam sebelum hari H, saya terpukau menyaksikan tenda-tenda yang atapnya menandai pemilik sponsor, Sosro, sudah berdiri mengelilingi bagian kanan area benteng. Tenda-tenda itulah yang menjadi stan para relawan menyiapkan sarana bermain dan belajar lengkap dengan hiasan yang menyemarakkan stan.

20190721104708_IMG_2439-01
Kak Mute bilang, “Kita bakal seru-seruan di FAM.” Kak Edwin, “betul sekali kak, ada banyak kemeriahan di FAM.”

Di kali ketiga Sobat LemINA menggelar Festival Anak Makassar pojok edukasi mengajak anak-anak untuk mengenal dan melindungi tubuhnya melalui “Aku Sayang Badanku”, belajar cuci tangan yang benar dan menggosok gigi di “PHBS”, memilah dan mendaur ulang sampah di “Pemilahan Sampah”, kepoin mitos dan fakta sehari-hari di “Tahukah Kalian”, dan membaca sambil bercerita di “Pojok Baca” bareng teman-teman komunitas Bookmate. Anak-anak sangat asyik terlibat di tiap pojok edukasi yang dipandu kakak relawan.

20190721133014_IMG_2502-01
Cari-cari judul buku bagus dulu manteman.

Selain pojok edukasi, hadir pula pojok kreatif. Sesuai namanya, anak-anak diajak berkreasi. Ada beberapa stan yang dihadirkan pojok kreatif: bermain pasir ajaib, membuat origami, membuat kokoru, dan melukis tas. Khusus di pojok lukis tas, anak-anak berkreasi sesuai imajinasinya bersama teman-teman dari komunitas Mari Berbagi Seni. Semua hasil karya dari pojok kreatif bisa dibawa pulang dong, tapi sebelum melukis tas anak-anak harus mengunjungi setidaknya empat stan dan dua diantaranya wajib mengikuti pojok ASB dan PHBS.

20190721091053_IMG_2362-01
Pilih-pilih warna, daunnya warna apa?

Semua stan edukasi dan kreatif baru bisa dikunjungi setelah acara pementasan berlangsung di panggung utama, kecuali kegiatan mewarnai massal. Anak-anak yang telah melakukan registrasi berkumpul di dekat panggung, tepatnya di pelataran museum sembari mewarnai gambar yang dibagikan. Terdengar lantunan ayat suci Alquran dibacakan dengan merdu oleh adik Azzah menjadi penanda dimulainya FAM secara resmi. Ibu Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Makassar menyampaikan kesan dan pesannya yang bersinergi dengan FAM serta perasaan bangganya menyaksikan kemeriahan acara di pagi yang cerah disambut dengan tepuk tangan pengunjung saat beliau mengakhiri pesan singkatnya.

B612_20190730_082644_950-01
Pantomim nih, akting saja, tidak benaran tidur lho!

Sekelompok anak-anak berkostum cerah ceria segera mengambil posisi di tengah area lapang. Mereka bergoyang setelah lagu Tobelo berbunyi. Tiba waktunya para pementas menunggu giliran tampil, mewanti kapan Kak Mute dan Kak Edwin memanggil nama mereka. Seorang ibu bersama anaknya yang berkacamata hitam dengan gaya stylish menemui panitia, meminta diberi kesempatan tampil. Oleh Kak Rini, relawan pementasan, anak perempuan bernama Yui itu diberi tempat. Dengan percaya diri ia menarikan tari madinding mengikuti musik khas tanpa berganti kostum. Sekaligus menandai bahwa ia pementas dadakan.

Gadis cilik itu mencuri perhatian beberapa orang yang kagum akan semangat dan kepercayaan dirinya. Datang sebagai peserta rupanya ia mencoba hal baru dengan menunjukkan aksi menari. Sebelum masuk area festival ibunya sempat bercerita, “harus tulis nama sekolah ya? Anak saya ini home schooling. Belajar di mana saja, termasuk datang ke sini buat belajar.”

20190721103110_IMG_2414-01
Si Pemberani dan percaya diri, YUI, sedang unjuk kebolehan

Jelang siang, beberapa anak tampak duduk di hamparan rumput yang dipayungi tenda berukuran sekira 1,5 x 3 meter. Mereka bersila sambil memegang spidol dan kertas berlaminating. Dengan rapi dan tertib menunggu Kak Ifa dan Kak Adi membacakan soal-soal. Mereka sedang serius mengikuti perlombaan Ranking Satu. Para orangtua dan penonton tampak di sisi-sisi pembatas tali yang dikaitkan di tiap tiang penyanggah.

B612_20190729_174931_213
Pas kakak MC bilang angkat papannya, kok jawabannya beda-beda. Siapa dong yang benar?

Bukan sekadar lomba adu kepintaran, lebih dari itu mereka diuji untuk mampu menyimak, tidak panik, cermat, dan jujur. Terbukti banyak anak-anak yang salah tulis, salah paham, melirik ke sebelahnya, dan bahkan dapat bocoran dari luar arena yang terpaksa harus didiskualifikasi. Perlombaan ini juga menguji kesabaran penonton. Beberapa kali soal dibatalkan karena penonton yang bersemangat menjawab pertanyaan dan tidak tahan untuk memberitahukan kepada anaknya jawaban yang benar. Berlangsung selama lebih satu jam, perlombaan berakhir dengan siswi dari SD Wahdah Islamiyah yang dinobatkan sebagai Ranking Satu. Selamat!

20190721141924_IMG_2585-01
Teman-teman dari komunitas Tusiwork, penyandang disabilitas yang unjuk bakat bernyanyi. Merdu loh!

20190721151352_IMG_2639-01
Demonstrasi masak-masak pakai kompor listrik dari tim PLN

Semua anak-anak tengah asyik mengunjungi stan dan beberapa tampak bernaung sambil santap siang dari stan kuliner. Mereka tampak berona merah di wajah akibat bias sinar matahari menerangi tenda-tenda pojok. Kegiatan di panggung diambil alih oleh beberapa parner sponsor dan komunitas. Meski terik membakar, stan terlihat sibuk. Beberapa anak beserta orangtuanya  tampak baru bergabung. Hingga sore, halaman di sepanjang area kosong antara panggung dan stan mulai dipenuhi setelah matahari merendah ke barat. Perlombaan kekompakan orangtua dan anak menggunakan bakiak menjadi penutup acara.

B612_20190724_185009_263-01
Ayo… ayo… Ketika satu keluarga harus bersaing adu kekompakan, Ibu bareng anak gadisnya dan Ayah bareng lelaki jagoannya

Sisi kiri Rotterdam yang sedari pagi digunakan sebagai tempat pegawai Disdukcapil melayani masyarakat yang mengurus KIA dan akta telah lengang. Pendaftaran sudah ditutup tepat tengah hari, meski masih ada yang datang ingin mengurus setelahnya. Yang semula tampak lebih ramai oleh para orangtua akhirnya benar-benar sepi. Mereka yang datang dengan berkas lengkap bersyukur dan berterima kasih sebab bisa pulang membawa akta dan KIA.

Beberapa relawan memang memerkirakan kemungkinan membludaknya antrian KIA dan akta sebab respon masyarakat kepada narahubung begitu antusias. Mereka teramat bersemangat karena merasa sulit jika mengurus langsung ke Disdukcapil yang jarang sepi pengantri dan tidak langsung selesai dalam hari itu. Beberapa orangtua yang sibuk bekerja juga jarang yang memiliki waktu senggang mengantri lama. Pegawai Disdukcapil yang rela melayani di hari minggu harusnya memang diapresiasi. Terima kasih!

20190721131542_IMG_2472-01
Akhirnya punya akta lahir, terima kasih Disdukcapil!

Salut juga kepada Kak Umroh dan Kak Winda yang tetap sabar dan melayani ibu-ibu dan bapak-bapak yang berkeluh kesah terkait nomor antrian yang dihentikan sementara karena permasalahan teknis, yang menjadi ‘bulan-bulanan’ protes mereka yang kurang sabar dan tidak mengerti.

“Perasaanku jengkel sekaligus takut diserbu massa, hatiku sudah berteriak minta tolong, mau kabur. Sudah mau berdrama a la-a la pingsan tapi ya gimana,” Kak Umroh melanjutkan, “segala protes dilempar kepada kami. Tapi ya kita memang kurang antisipasi dan persiapan kalau ternyata masyarakat antusias sekali. Ini pelajaran untuk ke depan.”

B612_20190730_081340_774-01
Kak Mangga dari Dongkel sedang berdongeng dengan teknik read aloud

20190721172145_IMG_2750-01
Face painting oleh Kak Anty Asri. Tampil unik dan bahannya aman!

Mereka yang berpartisipasi di FAM sangat luar biasa. Saya bersyukur telah belajar dari keterlibatan di FAM. Di luar dari perkiraan, FAM 2019 benar-benar ramai. Inilah ajang bermain, belajar, dan tumbuh dalam keberagaman seperti tema yang digaungkan. Tidak hanya bagi anak-anak yang dilibatkan, tapi juga untuk para relawan repot-repot yang memaknai tema FAM sedari awal persiapan sampai penutupan. Kolaborasi bersama komunitas Save the Children, Sigi Makassar, Makassar Berkebun, Komuntas Mentari, SPAK, TusiWork, Gowa Menyala dan Bookmate.

“Saya bergabung jadi relawan FAM karena info dari sepupu yang jadi relawan juga, senang sekali bisa mengenal teman-teman relawan dan terlibat di kemeriahan dunia anak-anak.” Begitu kesan yang disampaikan Kak Yani yang terlibat di pojok kreatif membuat kokoru.

Kesan serupa juga disampaikan Nasrul yang merasa masih hijau dalam dunia komunitas sehingga kadang merasa masih canggung. Ia menyarankan bahwa ke depan, koordinator FAM yang terpilih bisa segera mendiskusikan konsep kegiatan di sela-sela ngumpul. Demi efisiensi dan efektivitas menyelesaikan ‘printilan-printilan’ kegiatan. Saat ditanya apakah dirinya siap mengemban amanah, ia hanya menjawab bahwa pengalamannya belum banyak dan masih butuh belajar lebih. Hmm, bukankah dengan menjadi koordinator kegiatan seseorang akan belajar banyak hal?

B612_20190724_162904_856-01
Terima kasih untuk segenap yang sudah meluangkan waktu: teman-teman komunitas, tim sponsor, pengisi acara, relawan repot-repot, dan pengunjung ceria

Senang sekali bisa bersinergi dengan komunitas yang terlibat, juga para sponsor yang telah siap dan sanggup mewadahi juga mendanai dan para pementas yang luar biasa. Segala yang telah diberikan menjadi kesan tak terlupakan bagi yang berpartisipasi. Sebuah pengalaman baru yang tak ternilai belum tentu bisa diperoleh di tempat lain. Semoga bisa berjumpa di Festival Anak Makassar selanjutnya dengan suasana yang lebih meriah dan bahagia (: *** (Na/290719)

 

 

Menjadi Relawan Tanpa Batas

Senyum anak Indonesia kelak pasti akan terukir, entah karena mendapat hadiah sederhana berupa kue, peringkat kelas, liburan bersama keluarga atau lulus sekolah dengan nilai bagus. Tetapi tidakkah kita ingin menjadi bagian dari sebab senyum mereka? Asbab baik yang akan terus mereka ingat sebagai nilai kebaikan meski kita tidak meminta untuk diingat karena kita melakukannya atas kesadaran, ketulusan, dan kebutuhan diri untuk berbuat baik.

Ada banyak motivasi yang bisa mendorong kita berbuat baik termasuk saat mengingat betapa diri membutuhkan wadah untuk berbuat baik dan di luar sana berpuluh ladang komunitas membuka pintu. Sobat LemINA salah satunya, saya selalu terpanggil untuk bergabung dengan komunitas ini meski acap menghilang tanpa kabar lalu kembali muncul. Huh, sudah seperti hantu saja padahal masih bernyawa.

Tepat pada pekan pertama di tahun 2019, saya menghadiri rapat kerja relawan Sobat LemINA yang diramaikan oleh 15 relawan dan 5 anggota manajemen. Beragam hal di bahas dalam kegiatan ini termasuk evaluasi kinerja dan semangat berkomunitas sebagai relawan. Perihal kinerja tentu tidak dibahas secara individu mengingat komunitas adalah wadah kerja relawan yang berarti pekerjaannya tidak dipaksakan dan berjalan secara sukarela. Namun, agar tujuan komunitas tercapai maka perlu kesadaran dan semangat menjalankan misi.

Saya menyukai sesi evaluasi yang dihelat tepat saat malam minggu, saat banyak orang di luar sana yang mungkin juga sedang mengevaluasi hubungannya. Tiap-tiap relawan harus menulis hambatan yang dirasakan selama berkegiatan di atas sticky notes. Hambatan yang paling banyak dituliskan dalam kalimat berbeda namun satu makna adalah komitmen.

sobatlemina_4___bsmugj2goth___
Tuliskan lalu tempel

Sejak pertama bergabung sampai saat ini, puluhan wajah silih berganti datang dan pergi. Ada yang datang, say hi, lalu pergi. Ada yang datang, berkenalan, berkontribusi sebentar lalu pergi. Ada yang datang, tinggal lama, lalu harus pergi karena tuntutan hidup (menikah, bekerja, pindah domisili dll.). Ada yang datang, berkontribusi, pergi dan datang lagi jika sempat. Lalu di posisi mana komitmen yang sesungguhnya terletak jika relawan adalah kontributor kegiatan bukan sekadar mendaftar nama sebagai anggota komunitas?

Kembali lagi pada hak komunitas yang tidak bisa memaksa, jika relawan masih berpaut visi dan misi akan selalu ada alasan untuk ‘tinggal’, pun sebaliknya. Bentuk kontribusipun tidak melulu selalu kehadiran. Teringat cerita Kak Bunga yang akrab disapa Bunda tentang relawan Kak Ica yang sebelum menikah sangat aktif berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan Sobat LemINA bahkan beberapa kali menjadi penanggung jawab kegiatan. Setelah menikah, ia harus mengikut suami tinggal di Bali. Namun dalam bentangan jarak Bali-Makassar, ia masih berkontribusi dengan cara membantu memperbarui informasi kegiatan Sobat LemINA di media sosial. Suatu kegiatan yang nyaris tidak dapat kami lakukan saat tengah bersibuk ria di lapangan. Ya tentu tidak harus melulu begitu, ini hanya contoh yang menunjukkan bahwa dunia kerelawanan tidak terbatas ruang dan waktu.

Masih ada banyak sticky notes belum terbaca yang menempel di kertas plano. Isinya masih rupa-rupa. Kami sepakat bahwa masalah pengaturan waktu adalah hal yang masih sama-sama menjadi pembelajaran penting bagi relawan: mengatur waktu kesibukan sendiri dan waktu menjadi relawan.

Perihal baper, nilai saling memahami amat berlaku di sini. Meski sudah sering berbaur dalam kegiatan, belum tentu sesama relawan sudah saling memahami batas sensitivitas tiap-tiap orang. Maka bagi saya, komunitas menjadi tempat belajar memahami karakter tiap individu hingga akhirnya saya paham alasan beberapa orang tidak berguyon dengan orang lain. Bukan karena membeda-bedakan tetapi belum mengetahui saja apakah saya misalnya tidak akan tersinggung jika diledek dengan lelucon A seperti halnya teman lain yang justru biasa-biasa saja. Kelak, jika sudah saling biasa bersama pasti akan mudah saling bercanda. Eh, asalkan bapernya tidak berubah menjadi baper versi lain saja sih.

Seorang teman relawan menyinggung ihwal adanya kebiasaan relawan yang hanya muncul tepat saat hari kegiatan digelar. Mereka absen pada saat hari –hari persiapan sehingga menjadi bingung harus berbuat apa, bagaimana, dan mengapa harus hadir di lokasi kegiatan. Lalu bagaimana? Kordinasikan dengan teman sesama tim kerja. Pasti bakal tidak bingung-bengong amat saat hari H jika mengetahui deskripsi kerja dan kebutuhan apa yang harus dituntaskan. Komunikasi selalu saja jadi kambing hitam sekat antar teman. Padahal komunikasi sudah semakin mudah dengan modal ponsel pintar, yaa kecuali jika tak punya kuota, SMS atau telpon pakai pulsa bisa kok.

Terakhir, pembahasan menjadi agak panjang tentang hambatan kurang fokus. Padahal teman-teman berseru kencang, “minum aqua dong!” Tapi ternyata, menenggak aqua saja tidak cukup karena masalah tidak selesai. Saya yang menulis langsung tentang hambatan ini, sebab di lapangan saya kerap melihat teman-teman yang memiliki banyak sekali wadah komunitas. Saya menjadi bingung sendiri saat kedua atau lebih komunitas yang diikutinya mengadakan kegiatan yang bersamaan dalam satu waktu, sementara posisinya sebagai relawan tentu sama dalam komunitas tersebut. Manakah yang akan dipilih jika semuanya memiliki urgensi yang setara?

Sebagai relawan dibanyak komunitas yang sah-sah saja, penting bagi relawan untuk memilih mana komunitas yang menjadi identitas utama perwakilannya. Apalagi jika semua komunitas yang diikuti bergerak dibidang yang sama. Tentu ada komunitas yang intensitas dalam mengikuti kegiatan-kegiatannya lebih besar. Problematika ini agar tidak ada kesalahpahaman jika sewaktu-waktu bergabung dan berbaur dalam acara atau diskusi kumpul komunitas. Tersebab mewakili banyak komunitas yang berbeda permasalahan dan dapur internal dalam satu waktu akan menimbulkan kebingungan dan inkonsistensi.

whatsapp image 2019-01-14 at 09.50.28
Semangat!

Menjadi relawan berarti belajar banyak hal sekaligus dalam panggung kehidupan dan ‘rumah sosial’. Kita belajar menentukan proritas, berkomitmen, mengasah kecakapan hidup, berkomunikasi secara efektif, memilih, dan peka. Juga bahwa ternyata menjadi relawan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Sumbangsi pikiran di grup obrolan, donasi dana dalam kegiatan, dan membantu membagi informasi dan agenda kegiatan sangat bisa kita lakukan meski tidak terjun langsung di lapangan karena jarak yang tak memungkinkan.

Tercatat ada 9 agenda prioritas Sobat LemINA selama tahun 2019. Agenda utama dan terbesar adalah Festival Anak Makassar. Semoga segala kegiatan bisa berlangsung dengan lancar dengan adanya kontribusi kita. Tulisan ini juga saya khususkan untuk diri saya, semoga semakin aktif terlibat kegiatan.***

 

6 Alasan Wajib Ikut Kirab Pemuda

Tahun ini, salah satu pencapaian yang saya syukuri berkali-kali adalah kesempatan menjadi delegasi Sulawesi Selatan untuk kegiatan kepemudaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI bernama Kirab Pemuda. Perjalanan napak tilas kebhinnekaan dengan melintasi 34 Provinsi dan 100 Kabupaten/kota untuk menyebarkan semangat nasionalisme, mempererat keutuhan NKRI, dan menebar ghirah patriotisme di kalangan pemuda-pemudi Indonesia. Kegiatan ini belum sepopuler Kapal Pemuda Nusantara, Jambore Pemuda Indonesia, dan Program Pertukaran Pemuda Antar Negara yang juga merupakan program di bawah naungan Kemenpora. Wajar saja sih, Kirab Pemuda masih berusia dua tahun pada saat dihelat tahun 2018 dan melibatkan lebih banyak pemuda dibanding tahun sebelumnya.

Setiap provinsi mengutus satu putra dan putri sebagai perwakilan. Tiap pasang dipisahkan saat perjalanan yang terbagi menjadi dua zona, zona 1 dan zona 2. Zona 1 melintasi bagian barat Indonesia mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan dan sebagian Jawa (Banten dan Jakarta). Sementara zona 2 melintasi bagian timur Indonesia melingkupi pulau Papua, Maluku, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara dan Bali. Meski seakan tim zona 2 melintasi lebih banyak pulau, tetapi faktanya kedua zona mengunjungi jumlah provinsi yang sama, 17 titik singgah provinsi.

Pembagian zonasi peserta telah ditentukan oleh pihak panitia Kirab Pemuda, bukan dipilih. Perjalanan saya habiskan bersama 34 teman dari tiap-tiap provinsi dan 10 anggota organisasi kepemudaan nasional selama 73 hari dengan mengawali langkah di Merauke, daerah paling timur Indonesia. Sementara pasangan se-provinsi saya mengawali perjalanannya di Sabang, daerah paling barat Indonesia bersama sejumlah peserta yang sama banyaknya melintasi daerah barat Indonesia. Pada titik awal perjalanan tersebut, diikutkan satu orang perwakilan dari Merauke dan Sabang yang diutus oleh Dispora setempat. Sounds lucky, right? Melintasi 17 provinsi beragam kegiatan kami lakukan sesuai daerah titik singgah tiap lima hari. Agenda yang kami lakukan bervariasi seperti bakti sosial, pawai kebudayaan, seminar, kunjungan wisata, membaca kitab suci, diskusi dan gala pemuda.

Sebelumnya, tidak pernah terpikirkan bahwa saya bisa mendapat kesempatan emas mengikuti kegiatan yang luar biasa ini. Benar-benar sebuah pengalaman yang akan terus menjadi pembelajaran di samping menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Setidaknya saya merasakan banyak manfaat dan enam alasan berikut mewakilinya.

1. Menambah Wawasan Kebangsaan

Kirab-pemuda-2018
Pembekalan langsung oleh Menpora Imam Nahrawi (dok. Acehkita)

Sewaktu mengikuti seleksi, salah satu tes dalam proses wawancara adalah wawasan kebangsaan. Saya harus menjawab pertanyaan yang menguji pengetahuan saya tentang Indonesia. Pada saat dinyatakan sebagai delegasi provinsi dan mengikui pelatihan pra-perjalanan selama empat hari saya juga memperoleh banyak bekal wawasan kebangsaan dari pemateri-pemateri hebat yang terlibat di kementrian. Selama perjalanan pun saya mendulang banyak sekali pengetahuan tentang Indonesia. Setiap titik singgah yang saya kunjungi memberikan saya pengetahuan baru melalui kunjungan museum, diskusi, dan saat tinggal berhari-hari bersama warga sekitar.

2. Sarana Menebar Manfaat

Beberapa titik singgah menjadwalkan kunjungan ke sekolah-sekolah dalam rangka transfer pengetahuan kepada siswa-siswa setempat. Agenda ini termasuk yang saya senangi sebab saya bisa bertemu dengan wajah-wajah antusias yang menyambut dengan senyum dan rasa penasaran bak artis. Kami masuk ke kelas-kelas mereka untuk berbagi pengetahuan, bertukar pikiran tentang masa depan, dan bertukar cerita tentang kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan anak-anak muda.

Saya sangat terkesan saat berkunjung ke SMA Negeri 1 Atambua dan mendengar pendapat para siswa tentang seperti apa pemuda seharusnya memiliki sikap. Mereka yang awalnya malu-malu pun menjadi terbuka dan percaya diri. Terlebih saat mereka secara gamblang menyampaikan cita-cita setamat sekolah, duh saya terharu mendengar mereka yang ingin melanglang keluar Atambua untuk mewujudkan impiannya. Kami juga terlibat di beberapa kegiatan bakti sosial dan bakti lingkungan di mana pada saat pelaksanaannya kami berbaur bersama pemuda dan masyarakat setempat.

3. Meningkatkan kualitas diri

Pemuda-pemuda yang bergabung dalam Kirab Pemuda memiliki kepercayaan diri dan kemampuan serta bakat yang beragam. Ada yang mahir menari dengan segala jenis lenggok, berorasi, multimedia, dan lain-lain. Saya banyak belajar dari teman-teman yang memiliki kemampuan yang tidak saya miliki. Seperti menari, tubuh saya ini kaku sekali untuk menari. Namun di situasi selama perjalanan, kata tidak sanggup itu rasa-rasanya jadi penolakan yang paling tidak bisa diterima. Sebab semua harus berkontribusi dalam kegiatan.

IMG-20181214-WA0043-01
Tebak ini lagi ngapain?

Pada malam seni atau momen-momen tertentu seperti penyambutan atau perpisahan semua bergiliran tampil menari dan bahkan harus bersama-sama menari jingle Kirab Pemuda. Bagi mereka yang pemalu seperti saya, berbicara di depan publik adalah keharusan tanpa alasan. Kerap kami harus tampil di depan berbicara dan mengungkapkan pendapat. Seiring perjalanan, rasa malu dan tidak percaya diri akhirnya luluh karena situasi yang melatih kami untuk tampil tanpa alasan tidak bisa. Toh, pada kenyataannya semua bisa.

4. Berkenalan dengan Pemuda-pemudi Seluruh Indonesia

Saat resmi menjadi delegasi provinsi, kami tidak pernah menyangka bakal bertemu dan berteman dengan satu pasang perwakilan provinsi seluruh Indonesia. Bahkan, banyak di antara kami yang baru berkenalan dengan pasangan dari provinsi asal yang sama pada saat mengikuti Kirab Pemuda. Berteman dengan mereka membuat kami mempunyai jejaring seluruh Indonesia. Seakan kami sudah bisa melihat Indonesia dari “kacamata” mereka, dari cerita mereka, dan dari budaya yang mereka perkenalkan kepada kami.

IMG-20181019-WA0034-01
Berkumpul bersama pemuda Purwakarta

Belum lagi saat perjalanan, kami bertemu dan berkenalan dengan lebih banyak lagi pemuda-pemudi Indonesia. Bahkan kami memiliki keluarga di tiap titik singgah yang telah sudi membuka pintu rumahnya untuk kami menginap dan merasakan “rumah”. Teman-teman kami pun rasanya sudah seperti keluarga, 73 hari bersama dalam suka dan duka. Berbagi dalam setiap keadaan, rasanya sulit untuk menganggap mereka sebagai hanya sekadar kenalan atau teman saja.

5. Bertemu dengan Orang-orang Hebat

Pembekalan Kirab Pemuda sebelum perjalanan mempertemukan kami dengan pemateri-pemateri hebat dibidangnya. Kami bertemu kordinator-kordinator bidang di beberapa kementrian, staf-staf presiden, motivator, dan para profesional yang sengaja diundang untuk membekali kami dengan pengetahuan baru atau meng-upgrade ilmu kami. Pengukuhan sebagai peserta pun kami bertemu dengan Pak Mentri, Imam Nahrawi yang dengan ramah menyapa, memberi nasehat, dan menyemangati kami yang akan menghabiskan tiga bulan jauh dari rumah untuk sebuah misi.

Setiap perjalanan pun kami disambut dengan begitu luar biasa oleh pemerintah setempat. Beberapa kali kami diundang untuk makan malam bersama di rumah Gubernur, Bupati, dan Walikota setempat dengan sangat istimewa. Rasanya sudah seperti tamu kehormatan. Beberapa kesempatan kami juga berjumpa dan berbincang dengan artis seperti Kholidi Asadil Alam pemeran Azzam di film KCB, Seventeen, Tommy Kurniawan, Arzetty Bilbina dan beberapa lainnya.

IMG-20180914-WA0027-01
Setelah gala dinner bersama Walikota Ambon, Richard Louhenapessy

Menjelang acara puncak Kirab Pemuda di Jakarta, kami bahkan dipertemukan dengan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah dan mendengar langsung penyambutan beliau yang sangat luar biasa. Pertemuan paling berkesan bagi saya adalah kala berkunjung ke istana Wakil Presiden RI dan dipercaya mewakili kelompok Zona 2 untuk menyampaikan pesan dan kesan langsung di hadapan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden RI dan Menpora Imam Nahrawi.  Sungguh momen itu adalah yang paling berkesan bagi saya dan tentu saja saya harus berterima kasih karena telah dipilih menjadi bagian dari Kirab Pemuda 2018.

6. Jalan-jalan Keliling Indonesia

IMG-20180914-WA0022-01
Kunjungan ke Gunung Botak di Manokwari Selatan

Sejak terpilih menjadi bagian dari Kirab Pemuda 2018, kami diajak untuk meluruskan niat bahwa tujuan utama mengikuti Kirab Pemuda adalah untuk menyatukan Indonesia dan berbakti untuk negeri. Tersebab banyak yang berkenan mengikuti kegiatan ini dengan maksud utama untuk jalan-jalan. Kirab Pemuda bukan program jalan-jalan serupa pelancong. Kami benar-benar merasakannya saat berada di titik singgah terakhir di Bali. Terkenal sebagai daerah pariwisata dan tempat-tempat liburan, tidak satupun yang kami kunjungi karena tidak ada agenda sosial di sana. Jalan-jalan itu benar-benar adalah bonus mengikuti Kirab Pemuda. Melihat tempat yang belum banyak dieksplor orang-orang luar dan belum populer sebagai destinasi wisata.

Nah, setidaknya enam hal itu menjadi alasan untuk mempertimbangkan mengikuti seleksi Kirab Pemuda selanjutnya. Sekali lagi, saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena menganugerahi saya kesempatan berharga ini. Jadi, masih mikir berapa kali lagi untuk segera cus ke situs resmi Kirab pemuda dan kepoin kapan lagi pendaftaran angkatan selanjutnya. Selamat berjuang dan semoga bermanfaat 🙂 (Na/12/18).

 

Gambar: Dokumentasi Tim Media Zona 2 Kirab Pemuda 2018

Terinspirasi Bertualang Berkat Titik Nol

Tidak ada genre tertentu yang membuat saya akan menyukai suatu buku. Cukup buat saya bergumam, gilaaak keren banget, gue banget nih, kok bisa dia mikir sebegitunya ya! berarti buku yang baru saja saya lahap sampai lembaran terakhir itu memukau saya. Lebih sering saya menyukai suatu buku karena isinya menyinggung sisi kehidupan saya hingga membuat saya mengangguk-angguk dan berbenak iya benar. Itu terjadi berulangkali saat saya membaca “Titik nol: Makna sebuah perjalanan”, cerita perjalanan yang dipadukan dengan drama menjelang kematian ibu pengarangnya, Agustinus Wibowo yang sungguh penuh hikmah.

17253247
Buku favorit

Membaca cerita perjalanan yang dirangkum dalam sebuah buku selalu memukau saya.  Perjalanan yang ditempuh penulis kerap mewakili rasa penasaran saya terhadap suatu destinasi.  Tak jarang, cerita tersebut turut membawa saya ikut merasakan perjalanan menelusuri titik-titik pemberhentian penulis.  “Titik Nol: Makna sebuah perjalanan” saya baca lebih dari lima tahun silam. Saya sudah agak lupa secara detail berbagai kutipan tulisan yang membuat saya begitu menyukai buku ini. Saya kurang baik dalam mengingat kutipan, sekeren apapun untaian kalimatnya.

Dalam buku pertamanya itu, Agustinus bercerita tentang perjalanannya melintasi Asia dimulai dari Beijing menuju Tibet, India, Pakistan, dan Afganistan. Perjalanan yang membuka mata saya tentang perjalanan yang tidak sesederhana dan semudah membayangkannya. Melalui narasi deskripsinya, saya bisa merasakan bagaimana beratnya mendaki Himalaya yang diagungkan penganut Budha. Turut merasa horor membayangkan rasanya terintimidasi oleh orang asing yang bermaksud jahat kepada diri. Bergidik ngeri membayangkan bagaimana harus melalui kesulitan materi di negeri seperti India yang dipenuhi tantangan 3S (Sick, Stole, and Sex). Secara tidaklangsung, saya merasa memeroleh pengetahuan dan pengalaman melalui membaca Titik nol.

Setiap cerita perjalanan yang disampaikan penulis, disematkan pula cerita bersama ibunya. Bagaimana ibu penulis mendidiknya begitu keras hingga ia berhasil melanjutkan pendidikan ke kampus terbaik di Tiongkok. Tentang bagaimana pandangan-pandangn ibunya tentang kehidupan yang mengajarkannya bertahan sampai titik akhir hidup ibunya. Saya merasa tersentuh dan menilai karya yang dipadukan ini sungguh sangat epik.

Salah penuturan ibunya; tapi, lanjutnya, hidup itu memang adalah soal pilihan. Kami orang tua cuma bisa memberikan pandangan, pilihan tetap ada di tanganmu. Jalani kehidupanmu sendiri, pilihanmu. Kalau kamu sudah tidak kuat, pulanglah. Pintu rumah juga selalu terbuka untukmu. (Hal. 88)

Saya juga menyukai sudut pandang penulis dalam menanggapi hidup dan perbedaan agama selama ia menempuh perjalanan. Buku ini menginspirasi saya untuk tidak sabar mulai bertualang hingga saya juga bisa menemukan diri saya seperti penulis menemukan keyakinan dirinya. Hal yang membuat pembaca merasa berada dalam perjalanan adalah foto-foto perjalanan penulis. Bukan swafoto dengan latar tempat, tapi tempat yang suasana dan deskripsinya begitu hidup.  Titik nol menjadi favorit saya karena sensasi perjalanannya membekas dalam ingatan dan perasaan saya. Saya juga sukaaa sekali cara penulis menuturkan kisahnya, mengalir dan sampai ke hati. Salah satu gaya tulisan yang ingin sekali saya tiru tapi belum bisa 😦

Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri… Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.”***

Judge Me by My Clothes?

Pakaian yang kita kenakan lebih sering menjadi sebuah keputusan pribadi di samping masih ada juga orang yang suka meminta pendapat orang lain untuk memilihkannya baju yang sayangnya sering berujung kecewa. Sudah dipilihkan untuk memakai dress ke hajatan misalnya, eh tahu-tahu pas mau berangkat dia malah memakai kebaya. Kembali pada pilihan awalnya yang dia ragukan. Jadi untuk apa meminta saran?

Pakaian yang orang pakai kerap dinilai bisa mencerminkan bagaimana mood­-nya saat itu. Orang-orang di sekitar kita yang belum terlalu akrab juga bisa jadi peramal dadakan dengan menebak karakter orang berdasarkan model atau warna pakaiannya. Beberapa orang berpikir apa yang kita kenakan bisa mengungkapkan orang seperti apa kita, bagaimana ambisi kita, dan bagaimana kebiasaan kita sehari-hari. Contoh sederhananya: orang yang sering berpakaian kasual sering dinilai sebagai orang yang tidak suka dengan keribetan dan santai menjalani hidup. Orang yang berambisi terkenal biasanya tampil modis dengan mengikuti tren pakaian masa kini seperti para selebgram yang laku diendorse.

7c9e26f71b8a9b2f0c251284eca5ba24
Baju Kekinian

Saya sih termasuk bukan orang yang senang mengikuti tren busana terkini, tetapi lebih memilih untuk memiliki baju berdasarkan kenyamanan memakainya. Dilansir dari Forbes seorang Psikolog klinis bernama Jennifer Baumgartner yang juga menulis buku berjudul “You Are What You Wear: What Your Clothes Reveal About You” bahwa saat kita memutuskan membeli baju ada motivasi internal yang memengaruhi kita seperti: emosi, pengalaman, dan budaya.

Saya lebih senang mengepul tunik dan baju terusan sebagai koleksi. Motivasi internal saya melibatkan ketiga aspek yang disebutkan Baumgartner. Karena saya senang dengan baju yang panjang yang secara pengalaman dijamin tidak bakal memperlihatkan lekuk tubuh perempuan dan sebagai penganut Islam yang mewajibkan menutup aurat secara sempurna.

Di dalam lemari pakaian saya berjejer beraneka ragam model baju yang warnanya beragam. Meskipun warna merah muda telah saya daulat sebagai warna favorit, faktanya baju saya didominasi oleh warna hitam dan cokelat. Padahal tidak sedikit pula orang yang menilai karakter orang berdasarkan warna favorit atau warna baju yang dimilikinya. Sayangnya, kita tidak bisa menggeneralisasi hal itu sebab beberapa orang termasuk saya lebih jarang membeli baju berdasarkan warna kesukaan. Seorang teman yang saya kenal begitu menggilai warna hijau, bahkan tidak memiliki lebih dari dua lembar baju hijau dibandingkan warna pink yang bukan warna favoritnya.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan situs Elephantjournal juga mengungkapkan bahwa kita lebih sering memilih baju secara sadar dikarenakan kita menyukai warnanya tetapi sebenarnya warna baju yang kita pilih untuk kenakan bergantung penuh pada mood kita saat itu. Warna baju juga dapat merefleksikan sedang dalam keadaan apa kita saat itu. Misalnya orang-orang yang tinggal di negara non-tropis cenderung memakai pakaian berwarna cerah di musim panas dan berwarna lembut atau gelap di musim dingin.

Di antara beragam baju  yang menggantung acak di dalam persegiempat panjang dari kayu jati yang di cat cokelat di sudut kamar saya, ada satu baju yang bisa dibilang menjadi baju kesayangan saya. Jika kebanyakan orang memakai baju favoritnya di beragam acara yang dianggapnya istimewa maka saya hanya benar-benar mengenakan baju kesayangan saya itu di acara yang super istimewa misalnya idulfitri atau acara keluarga yang sangat privasi. Dikenakan hampir sebentar sekali itupun tidak benar-benar nampak karena akan tertutup oleh mukena saat melaksanakan ibadah. Hanya terlihat saat berjalan dari lapangan menuju mobil dan sebaliknya. Duh, terdengar posesif sekali yah jadinya.

Baju saya itu termasuk jenis abaya, gamis panjang berwarna hitam yang sangat lekat dengan model terusan Arab. Warna hitam berpadu peraknya membuat saya menyukai bagaimana desainernya merancang baju itu. Modelnya tiga lapis dengan ukuran yang semakin ke dalam semakin panjang. Lapisan terluarnya terbuat dari sifon yang memperlihatkan lapisan kedua dengan permata kecil buatan mengkilap yang biasa dijumpai pada bros. Lapisan keduanya dari kain silk yang bermotif polkadot sangat halus. Di bagian dadanya dijahit permata dengan teknik jahit tempel tertentu secara kontinyu sampai ke bagian dalam menyerupai motif yang sangat kearaban. Juga ada desain yang senada di pergelangan tangannya. Bagi saya baju itu sederhana tapi cocok untuk acara formal.

Baju itu semakin istimewa karena dibelikan langsung oleh Ibu saya sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekkah. Saya jadi terharu dan senang sekali sebab jarang sekali orang memberikan hadiah baju kepada saya lalu ukurannya bisa ngepas. Biasanya kalau bukan lengan tangannya yang kependekan seperti ukuran 7/8 malah panjang bajunya yang terlihat seperti tengah menarik baju ke atas karena banjir.

Jadi sayang sekali, banyak hadiah baju dari orang yang cuma sekali saja saya pakai sebagai bentuk penghargaan padahal boleh dibilang berkualitas. Mungkin sebaiknya jika orang-orang terdekat saya itu ingin menghadiahi saya baju lebih baik bertanya langsung dulu yah kepada saya, ukuran saya berapa, brandnya apa, dan maunya yang bagaimana *ehh. Kok jadi banyak maunya  yah? Mau dihadiahi atau minta dibelikan sih?

Saya yang penyuka pink ini yang memiliki lebih banyak baju hitam sehingga sering dianggap terlalu menunjukkan sisi introvert tidak begitu peduli pada bagaimana orang menilai saya melalui model dan warna yang saya pakai selagi nyaman dan pede. Karena sebenarnya warna pakaian yang kita kenakan pada saat tertentu menunjukkan perasaan kita saat itu dan hitam tidak selamanya menunjukkan kesedihan dan perkabungan. Justru hitam menunjukkan kekuatan, kemandirian, dan ambisi. Bisa jadi kita memakai pakaian yang sama di waktu yang berbeda tapi mood membuat kita merasakan perasaan yang berbeda. ***

Berpakaian bukan hanya tentang bagaimana perasaanmu saat itu, tetapi juga bagaimana kamu ingin merasakan sesuatu. Pakaian mengungkapkan pesan pada orang di sekitarmu juga kepadamu, bukan tentang siapa kamu – Jennifer Baumgartner

Bacaan:

https://www.elephantjournal.com/2015/09/what-the-color-of-our-clothes-say-about-our-personality/

https://www.forbes.com/sites/learnvest/2012/04/03/what-your-clothes-say-about-you/

https://www.psychologistworld.com/body-language/psychology-of-clothing-dating-dress